Dandelion






Bunga mungil nan indah, namun begitu rapuh; dari sudut pandang manusia memandangnya. Namun sebaliknya dengan si Dandelion kecil yang menganggap eksistensi keindahannya adalah warna baru bagi dunia; mereka tidak rapuh.
Mungkin kalian bertanya mengapa aku menceritakan dandelion kali ini. Keindahan dan kerapuhan yang menyatu dalam keserasian adalah satu konsep yang menarik untuk kubagi cerita dengan orang lain. Pagi ini dalam temaram lampu neon dan bising suara Spongebob, kutemukan makna lain dalam sekuntum dandelion.
Mari kumulai ceritanya dengan sebuah permisalan bahwa sekuntum dandelion akan menghasilkan 2.000 benih setiap tahunnya. Benih – benih tersebut dengan sukarela menerima akan diterbangkan kemanapun. Mereka tak memilih akan ditembakkan ke arah manapun oleh hembusan angin. Dandelion induk tidak peduli kemana benih – benih tersebut akan diterbangkan, kemana mereka akan dibawa, dimana mereka akan mendarat, dan apakah mereka akan diterima dengan baik ketika mendarat.
Tak mungkin dipungkiri jika sebagian besar dari ribuan benih tersebut akan jatuh di jalanan beraspal; yang keras dan kasar; dilewati oleh lintasan bising dan terlindas dengan menyedihkan; terbaring di dataran kosong yang tidak sempurna, sebuah kegagalan dalam pertarungan genetik untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Namun, satu hal yang perlu kuceritakan pada kalian bahwa, keberadaan dari satu atau sebagian besar benih – benih tersebut [bukanlah] hal yang penting, dari sudut pandang dandelion. Baginya, hal yang penting adalah setiap tahun ketika musim semi, setiap celah di setiap jalanan beraspal dipenuhi dengan dandelion.
Itu tujuannya bukan? Dandelion bukanlah makhluk serakah yang menginginkan setiap kesempurnaan dan keberhasilan dalam usahanya.
Agar setiap celah diisi oleh keindahan, ide, inovasi, dan kreativitas dalam hidup kita. Dengan kata lain, satu – satunya cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menyiapkan diri untuk mendapati bahwa banyak diantaranya yang akan gagal. Dari puluhan bahkan ratusan eksperimen yang dilakukan ilmuwan, hanya satu yang akan berhasil. Banyak yang akan jatuh di jalanan beraspal yang kaku; menyakitkan pasti.
Kita bisa menangisi setiap kegagalan yang datang, tetapi hal itu hanya akan menghambat dan membuat kita menahan akan munculnya ide selanjutnya. Atau, kita dapat merayakannya, menyadari bahwa kegagalan ini adalah bukti bahwa kita tidak bersikap membeda - bedakan kemana ide dan kreativitas kita akan dicurahkan, meluncurkan karya terbaik kita ke dunia, terlepas dari apakah ide – ide tersebut akan berjalan efektif atau tidak.
Lantas, kapan terakhir kali Anda tidak membeda – bedakan kegagalan Anda?   

0 Comments