Sepenggal Ceramah Seorang Maestro Sastra Dunia





Mendengarkan dan menyelaminya menjadi dua hal yang akan membius setiap jiwa dalam penggalan ceramah yang disampaikannya. Dalam dan runcing, tumpul di tempat sebagaimana mestinya, tidak memihak dan menginterupsi; apalagi melawan. Semua dilafalkan dengan penuh kepedulian atas nasib umat manusia kontemporer dalam dunia yang seolah prasejarah.
Dari kumpulan kata yang disampaikannya memberi makna tersendiri untuk dikagumi. Ia tidak berusaha mengindah-indahkan perkataan dan ceramahnya, hanya mulut dan jiwanya yang menyatu mengeluarkan lantunan kata yang layak untuk kubagi dengan orang lain. Seperti ini beberapa penggalannya…

Anak Dua Peradaban
Pidato Nobel Naguib Mahfouz


Tuan-tuan dan puan-puan,
    Anda mungkin bertanya-tanya: orang ini, yang datang dari Dunia Ketiga, bagaimana dia menemukan kedamaian pikiran untuk menulis cerita? Anda sepenuhnya benar. Saya datang dari sebuah dunia yang bernaung di bawah beban utang yang pengembaliannya akan membuat mereka mati kelaparan atau hampir-hampir mendekati itu. Sebagian di antara orang-orang itu binasa di Asia oleh banjir bandang, yang lainnya tewas di Afrika lantaran kelaparan. Di Afrika Selatan, jutaan orang baru terbebas dari penolakan dan dari perampasan seluruh hak asasi di zaman penegakan hak asasi manusia ini, setelah sebelumnya mereka tak dianggap sebagai manusia sama sekali. Di Tepi Barat dan Gaza, ada orang-orang yang dimusnahkan, kendati mereka nyata-nyata hidup di tanah mereka sendiri; tanah para ayah, kakek, dan para kakek moyang mereka. Mereka telah bangkit menuntut hak pertama yang sudah dijamin, bahkan oleh manusia primitive; yakni bahwa mereka mesti memiliki tempat yang laik yang diakui oleh orang lain sebagai milik mereka sendiri. Mereka harus memperoleh balasan atas keberanian dan tindakan mulia itu – lelaki, perempuan, pemuda, dan para bocah – mereka yang telah diremukkan tulang belulangnya, dibunuhi dengan peluru, dihancurkan rumah-rumahnya, dan disiksa di penjara-penjara dan kamp-kamp penyiksaan. Di sekitaran mereka ada 150 juta bangsa Arab yang menyaksikan apa yang terjadi dengan murka dan duka. Hal ini akan merebakkan bencana bila tak diselamatkan oleh kebijaksanaan dari mereka yang menghendaki keadilan dan kedamaian menyeluruh.
    Ya, bagaimana seorang yang datang dari Dunia Ketiga menemukan kedamaian pikirang untuk menulis cerita? Untunya seni itu murah hati dan simpatik. Seni tinggal bersama mereka yang bahagia dan dalam cara yang sama, ia juga tak meninggalkan mereka yang malang. Seni menganugerahkan kepada keduanya cara-cara yang tepat untuk mengekspresikan segala sesuatu yang kacau di dada mereka.
    Pada kesempatan yang menentukan dalam sejarah peradaban ini, tak bisa dibayangkan dan tak bisa diterima bahwa ratapan umat manusia itu mesti dibiarkan meluput dalam kehampaan. Tak diragukan lagi bahwa umat manusia pada akhirnya akan menyambut ajalnya, dan kita berada di zaman ketika harapan-harapan bergantung pada kesepakatan di antara negara-negara adikuasa. Pikiran manusia sekarang harus mengambil alih tugas-tugas untuk menghapus penyebab-penyebab kerusakan dan kebinasaan. Dan seperti halnya para ilmuwan yang mendesak untuk membersihkan lingkungan hidup dari polusi industri, para intelektual juga semestinya dapat mendesak diri mereka sendiri untuk membersihkan kemanusiaan dari polusi moral. Hal ini merupakan hak sekaligus kewajiban kita untuk menuntut para pemimpin besar di negeri-negeri yang berperadaban dan juga para ekonom mereka untuk membuat sebuah lompatan nyata yang akan menaruh mereka ke dalam pusat zaman.
    Pada masa kuno, setiap pemimpin bekerja untuk kebaikan bangsanya sendiri. Sementara yang lainnya dianggap sebagai musuh atau pihak yang mesti dieksploitasi. Tak ada sandaran buat nilai-nilai, yang ada hanyalah kekuasaan dan kejayaan pribadi. Dalam suasana semacam ini, banyak nilai-nilai moral, cita-cita, dan kebijakan yang disia-siakan; cara-cara yang tidak etis dibenarkan; jiwa-jiwa yang tak terbilang jumlahnya binasa. Kebohongan, penipuan, pengkhianatan, kebengisan merajalela dan menjadi tanda bagi kecerdikan dan bukti dari keagungan. Kini, pandangan seperti ini harus diubah sampai ke dasarnya. Kini kebesaran seorang pemimpin beradab mesti diukur dengan universalitas cita-citanya dan rasa tanggung jawabnya atas seluruh umat manusia. Dunia maju dan Dunia Ketiga tak lain satu keluarga. Setiap manusia menanggung kewajiban terhadapnya dengan tingkat apa yang telah ia peroleh dari pengetahuan, kebijaksanaan, dan peradaban. Bukan maksud saya untuk meluaskan batas-batas kewajiban saya jika saya menyampaikan pesan atas nama Dunia Ketiga: Janganlah menjadi penonton atas kesengsaraan- kesengsaraan kami. Anda sekalian mesti turut serta melakukan tindakan mulia sesuai status Anda. Dari posisi Anda yang berkuasa, Anda bertanggung jawab terhadap pelbagai perlakuan yang salah atas hewan-hewan, atau tetumbuhan, atas kebisuan tentang duka manusia, dan pelbagai soal lainnya di empat penjuru dunia. Kita telah cukup berkata-kata. Kini saatnya untuk bertindak. Inilah saatnya untuk mengakhiri zaman perampokan dan riba. Kita hidup di zaman yang para pemimpinnya bertanggung jawab atas seluruh bumi manusia. Hentikan perbudakan di Afrika Selatan! Selamatkan mereka yang kelaparan di Afrika! Selamatkan bangsa Palestina dari deru peluru dan penyiksaan! Juga, hentikan bangsa Israel yang mencemari warisan spiritual mereka yang agung! Selamatkan mereka yang berutang dari hukum-hukum ekonomi yang keras! Ingkatkan mereka pada kenyataan bahwa tanggung jawab mereka terhadap umat manusia mesti mendahului komitmen mereka terhadap hukum-hukum suatu ilmu pengetahuan yang agaknya sudah dilampaui zaman.



Diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris oleh Mohammed Salmawy.
Diadopsi dari buku Menggali Sumur dengan Ujung Jarum hasil terjemahan Tia Setiadi.

0 Comments