Pasukan Sepeda Pancal [PSP] #Ep.1

Hampir [Telat]



“Buk... aku berangkat dulu! Assalamu’alaikum...”
“Lho nggak sarapan? “
“Telat wes, Buk. Yang lain pasti udah nunggu,”
“Gini ini teruskan ya! Liat terus laptopmu itu, tidur malam terus, paginya semrawut!”
“Salahkan tugas itu lho, Buk. Ya kali tugas kaya banjir gitu, datang tiba – tiba. Ya wes aku berangkat, Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam, nggak usah ngebut lho”
“Iyaaa, sepeda pancal kok ngebut toh,”
Gawat! Sepuluh menit lagi gerbang ditutup dan aku masih mentok di depan rumah. Mereka pasti sudah menunggu dengan wajah kusut. Maafkan kawanmu ini, sepertinya weker itu minta adik baru. Jangan sampai telat deh! Bisa mampus kena semprotan emak kalau balik pulang. Sebentar lagi juga pasti dapat semprotan dari sesama bocah dan dugaanku benar, hancur deh pagi ini kena semprot dimana – mana.
“Nah, ini dia bocah artis yang sudah ditunggu kehadirannya,” sindir Nuri.
“Udah jangan sekarang kalau mau muji aku, Ri. Udah telat nih,” balasku enteng.
“Sialan lu,  gara – gara lu nih kita jadi maskot anak sekolah dari tadi,”
“Udah ayo cepetan jangan berantem!” ajak Okta.
“Iya, Anisa sama Mina juga pasti udah nungguin,” tambah Fia.
Jadi, kenalin namaku Andita Eka Wahyuni, sebut saja Eka. Dengan badan krempeng ini sekuat tenaga kukayuh pedal sepeda tak peduli kerudungku yang miring kemana – mana dan kacamata yang melorot sedari tadi. Angin pagi tak sebanding dengan keringat yang bercucuran, habis sudah penampilanku pagi ini. Semoga saja sampai sekolah nggak bau dan yang jelas nggak dapat omelan satpam nyebelin itu.
“Ayo, Nis, Mina!” teriak Fia.
“Kenapa lama banget sih ? Untung kita setia kawan gak ninggal kalian,”
“Hehe, maafkan kawan, tadi ada sedikit kendala di jalan,” belaku dengan cengengesan saat melewati gang rumah Anisa dan Mina.
“Sedikit lu bilang ? Kalau sampai gerbangnya nutup, lu musti traktir gua mi ayam Pak Mat selama seminggu!” palak Nuri.
“Ah, elu dari tadi sewot mulu ama gua, Ri,”
Yeah, this is it, teman – teman dodol tersayangku. Walau mereka bawel nan cerewet yang lebih galak kalau lagi malak daripada preman pasar, tapi merekalah sahabat sejati di dunia yang fana ini. InsyaAllah mereka sahabat dunia akhirat juga. Hehe...
Cewek mungil yang lincah dan hobi banget dance itu namanya Nuri. Dari kelima temanku hanya dia yang ngomongnya paling pedas. Meski badan kecil gitu jangan kira dia lemah di olahraga, justru Nuri yang paling unggul diantara kita, apalagi soal basket. Beuh... dia jagonya.
Nah, cewek yang kelihatannya diam namun menyimpan banyak kecentilan itu namanya Fia. Waktu awal masuk SMK banyak banget kakak kelas yang ngira kita kembar. Mirip dari mananya coba ? Lah mulai dari ujung rambut aja nggak ada yang sama. Si Fia ini hobi banget nyanyi dan dengan suara cemprengnya dia mengumbar suara di semua sudut kelas, tentu dengan sebongkah kepedean tak terbendung.
Beda lagi dengan temanku si Okta ini, badannya memang mungil atau sebut saja ndut. Hahaha, dia lucu seperti bola menurutku. Apalagi kalau sedang berbaring, yaampun lucunya lihat si Okta saat berusaha bangun. Okta ini yang paling sholehah diantara kita berenam, jangan sampai kita berbuat salah sedikit saja. Maka dipastikan dia akan menceramahi kita sampai bosan. Tapi bukannya sahabat yang seperti ini yang baik ? Selain itu dia juga ada sisi kurangnya lho, karena saat si Okta cerita lucu maka bukan cerita itu yang membuat kami tertawa, tapi tawa si Okta yang tinggi banget kaya Mak Lampir.
Teman sebangkuku ini memang punya suara yang unik. Setiap orang yang pertama kali ngobrol sama dia pasti bilang “Kok kecil gitu suaramu?” dan tertawa. Namanya Anisa, dia teman pertamaku saat di SMK dan anehnya aku nggak merasakan keanehan suaranya saat pertama kenalan.
   Namanya Aminatuzzuhriyah, hanya satu kata dan nggak kenal spasi. Jadilah Mina panggilannya. Temanku ini memang beragam, jika Fia cempreng, Anisa kecil, maka Mina suaranya nge-bass. Bisa dibilang suaranya kaya cowok, katanya sih karena ada seperti jakun di lehernya. Tapi kan nggak mungkin cewek punya jakun. Seperti Fia, si Mina juga hobi banget nyanyi dengan suara bassnya itu. Jadi kualitas suaranya bisa dibilang lebih baik dari si Fia. Ehem ehem...
Dengan segala tingkah mereka yang dong-dong sudah cukup menggemparkan bumiku kok. Tak perlu lelaki tampan jika hanya ingin bahagia setiap saat, karena otak mereka sudah bisa diubah seperti pikiran lelaki.
“Eh... bentar, Pak. Mau diapain gerbangnya ? Lah kan muridnya masih diluar toh,” cegah Mina ketika sampai di depan gerbang sekolah.
“Iya, Pak. Kan masih ada kita berenam yang cantik nan imut disini,” ujar Fia centil.
“Lagian kalian ini ya! Sudah tau peraturannya gerbang ditutup pukul 06.30 tepat gak pake molor, tapi masih aja molor. Beruntung hari ini Pak Yudi ngasih dispensasi 5 menit,”
“Nah, gitu itu yang baik, Pak. Harusnya Pak Iskan niru Pak Yudi tuh, gak pelit sama murid sendiri,” godaku.
“Halah, ayo cepat! Mau sekolah gak nih?”
“Eh eh, ya mau lah, Pak,” sela Okta cepat.
“Haduuh, gimana Indonesia mau maju kalau anak mudanya kaya kalian semua ini,”
“Tenang, Pak. Nanti saya jadi presiden, bapak saya angkat jadi ajudan saya. Hahaha...”
“Hush, jaga mulutmu, Ri. Kena gampar Pak Iskan baru tau rasa lo,” ujar Anisa.
“Iya iya, bercanda lho saya, Pak”
Segera kami berenam memarkir sepeda tersayang dan ngirbrit ke kelas. Jeng jeng jeng... ternyata hari ini Senin, sialnya minggu ini jadwalnya upacara bendera dan kenapa aku harus lupa membawa jas almamaterku. Beruntung saja aku nggak pakai seragam pramuka mengira hari ini Sabtu. Sepertinya matahari membenciku sekarang, senyumnya kecut menatapku. Alhasil aku harus kena omel Pak Yudi gara – gara keteledoran yang tak berujung ini.
Akhirnya upacara dengan amanat yang melelahkan ini selesai. Rasanya punggungku basah oleh keringat, habis badanku jadi lengket semua. Janji deh besok nggak akan telat bangun lagi dan nggak akan tidur lagi habis sholat Subuh.
Dengan semangat 45 yang mungkin tersisa menjadi semangat 18 kulangkahkan kaki tuk mengikuti pelajaran. Yak, semangat!





“Akhirnya pulang juga dari hari panjang ini,” ujarku sumringah.
“Beruntung kita tadi gak telat, kalau sampai telat ...” Anisa menghela nafas.
“Apa apa ? Mau minta traktir ke Pak Mat juga ? protesku.
“Haha... nah itu tau, abisnya lu molor banget tadi, Ka. Beruntung aku sama Mina sabar,”
“Awas aja besok molor lagi, gua tinggal lu, Ka,” ancam Nuri.
“Iye iye, gua set alarm jam 4 deh,”
“Udah gini aja, bikin kesepakatan. Jam 06.30 si Eka harus sudah bareng sama gua, Fia dan Nuri. Kalau masih gak datang yaudah tinggal,”
“Eh eh jangan gitu dong, Ta. Kasihan kan gua kalo telat sendirian ?”
“Eh ya urusan elu, Ka. Mangkanya jangan molor aja kerjaan lu,” balas Nuri.
“Udah udah jangan ribut, gua setuju sama usul Okta, dengan kesepakatan itu kita bisa disiplin waktu,” jelas Anisa.
“Nah, betul tuh kata si Nisa. Oke gua juga sepakat, yang lain juga kan ?” tanya Fia
“Oke sepakat,” teriak Nuri.
“Setujuu, lu gimana, Ka ? Kok lu yang paling berat keliatannya,” tanya Mina.
“Ya gimana kalau aku telat dikit doang ? Masa gak ada dispensasi gitu ? Rumah gua kan yang paling jauh,” ucapku sebal.
“Ya kalau telat dikit, lu kan masih bisa ngejar kita, Ka” terang Fia.
“Nah, betul tuh, Ka”
“Okelah gua setuju,” ucapku.
Dan jadilah kesepakatan kecil itu, kalau nggak gara – gara tadi pagi pasti nggak ada acara tinggal meninggal kawan gini. Huh,  sebel! Tapi yasudahlah buat pelajaran juga. Kan pengalaman adalah guru yang terbaik. Hehe...
Matahari mungkin sudah baik padaku, cahayanya sedikit meredup jadi sinarnya nggak membakar kulit. Dengan ngos – ngosan kukayuh sepeda tersayang dengan teman tersayang pula. Di lampu merah kami menjadi yang paling heboh di tengah kendaraan lain yang mulai lelah. Entah mengapa di setiap hari kami selalu memiliki bahan untuk dibahas di jalan dan tentunya juga dengan balapan liar.

Oh ya, karena kami semua naik sepeda engkol maka disebutlah kami PSP yaitu Pasukan Sepeda Pancal. Entahlah nama iu terceletuk begitu saja dari mulut Nuri yang pedas dan Kun Fayakun maka jadilah!

0 Comments