“Kami harus menangkap rahasia senyumanmu,” ucap
Rose. Lukisan itu mencemooh. “Semua orang mengira aku tersenyum. Aku tidak
tersenyum! Aku mengernyit, seperti seorang wanita terhormat,”. “Wah wah wah.
Siapa ini, kalau bukan Nyonya Lisa Giocondo,” ujar Leigh. “Namanya Monalisa,”
ralat Rose.
“Bukan, si Kecil
benar,” kata si lukisan, “Namaku Lisa Giocondo ‘Mona’ artinya nyonya, tapi
setiap orang memanggilku Mona. Itu bukan nama!” Ty berbisik, “Kenapa wanita ini
cepat tersinggung ?”
“Aku dengar
itu,” kata Monalisa. “Aku memang dua dimensi, tapi aku tidak tuli,” jelas
Monalisa.
“Tak perlu minta maaf gara – gara cepat tersinggung,”
kata Leigh, “kau pasti akan cepat tersinggung kalau menjadi subyek politik
gender Byzantime dan kaum atas di Florence abad ke-16. Lisa ini dilahirkan pada
akhir tahun 70-an-1470-an dan ketikan berumur sekitar lima belas tahun, hanya
beberapa tahun lebih tua darimu, Rose! –dia dipaksa menikah dengan seorang pria
berumur 40-an, lalu segera mengurus enam orang anak. Apa aku benar ?” Sekarang
Monalisa tak bisa menjawab, “Lanjutkan!”
“Dia tidak boleh memikirkan dirinya sendiri, kecuali
berbenah dan memasak, dan dia jarang keluar rumah, kecuali duduk selama dua
belas jam terus menerus di studio Leonardo Da Vinci karena suaminya ingin
memiliki lukisan dirinya,”
“Kau hanya menambah buruk saja, Leigh,” kata Rose.
Rose mengeluarkan dot dari sakunya dan memasukkan ke mulut Leigh.
“Keluarkan jeroan plastik segera!” jerit si lukisan.
“Hanya anak ini yang bisa mengerti aku! Kumohon peramal cilik, lanjutkan,”
Leigh meludahkan dotnya dan berdehem. “Aku sudah
melihat semua kritik seni tentang teka – teki senyuman setengah Mona Lisa di
Art History Channel. Tapi aku sendiri selalu berpendapat bahwa kau hanya
berusaha agar tidak tersenyum. Lukisan masa Renaissance hanya menampikan
kernyitan masam dan alim. Kau berusaha sebisa mungkin untuk tetap mengernyit,
tapi ada sesuatu di ruangan itu yang menggelitikmu, sesuatu –“
“Memang ada sesuatu,” kata si lukisan. “Kurasa itu
sesuatu yang kau lihat di studio Leonardo,” kata Leigh melanjutkan. “Itu mesin
terbang!” kata si lukisan.
“Walau aku masih muda, tinggal di pertanian Ayah,
aku bertugas mengurus ayam – ayam betina. Jumlahnya ada dua belas, semuanya
bersarang di satu kandang, dipaksa bertelur, tidak pernah diizinkan untuk
berkeliaran dengan bebas. Aku selalu bertanya – tanya, kenapa merka tidak
pernah mencoba terbang melewati pagar. Kupikir itu karena mereka takut
tertangkap,”
“Ayam betina favoritku berwarna merah dan kupanggil
Lisa. Seperti namaku. Suatu malam aku menyelinap ke dalam kandang dan mencuri
Lisa dari sangkarnya. Kuletakkan dia di padang rumput terbuka, dibawah sinar
bulan. ‘Terbang, Lisa!’ aku berteriak. ‘Terbang!’ Dia berusaha. Tapi ayam terlalu
besar dan kikuk untuk terbang beberapa meter. Aku terpaksa membawanya kembali
ke kandang,”
“Setelah itu,” si lukisan melanjutkan, “Aku menikahi
Fransisco dan melahirkan anak demi anak. Aku memikirkan Lisa si ayam yang
mengeluarkan telur demi telur. Meskipun aku menyayangi anak – anakku lebih dari
hidupku sendiri, aku menginginkan kebebasan seoerti burung layang – layang.
Tapi aku terlalu kikuk seperti Lisa si ayam, tidak bisa melarikan diri!”
“Fransisco memesan lukisan dari Leonardo Dan Vinci
yang hebat. Bayangkan kekagetanku saat duduk di dalam studionya hanya untuk
melihat mesin terbang yang indah sempurna di sudut! Dia menyuruhku untuk mengernyit
sealim mungkin, tapi yang kupikirkan hanyalah berada dalam mesin terbang itu
dan terbang,”
“Kupikir uap cat memengaruhi otaknya,” bisik Ty.
“Maka, akupun tersenyum sinting selama Leonardo
melukisku, karena aku berkhayal bisa terbang,”
“Terima kasih!” kata Sage. “Kisah yang luar biasa!
Ayo, pergi,”
Rose dan saudara – saudaranya beranjak mundur dari
lukisan, Sage dan Leigh berada di belakang.
“Jangan pergi!” jerit lukisan itu, “Tinggallah dan
dengarkan waktu kakiku patah karena aku mencoba terbang dari atap terasku!”
“Lain kali!” teriak Rose.
Disadur dari
novel :
Wood, Kathryn
Little. 2012. The Bliss Bakery Trilogy #2, A Dash of Magic. New York. Mizan
Fantasi



0 Comments